PENERBIT PERGURUAN TINGGI MEMPERKUAT EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI

Misi Penerbit Perguruan Tinggi (University Press)Seperti kita ketahui Salah satu tugas visi paling mulia dari sebuah perguruan tinggi adalah untuk m...

PENERBIT PERGURUAN TINGGI MEMPERKUAT  EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI

PENERBIT PERGURUAN TINGGI MEMPERKUAT EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI

Misi Penerbit Perguruan Tinggi (University Press)

Seperti kita ketahui Salah satu tugas visi paling mulia dari sebuah perguruan tinggi adalah untuk memajukan pengetahuan dan menyebarkannya, tidak hanya di antara mereka yang dapat menghadiri kuliah harian tetapi juga secara luas. (Johns Hopkins University Press, 2016). Kata-kata yang cukup terkenal dari Daniel Coit Gilman tentang pendirian Johns Hopkins University Press pada tahun 1878 dikutip hampir seluas dan seluas harapannya agar penelitian universitasnya dapat didistribusikan. Kutipan tersebut mewakili misi asli penerbit perguruan tinggi, yaitu untuk memastikan bahwa pengajaran dan penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi sendiri pada dasarnya tersedia secara luas. Demikian pula, John Fell, Dekan Christ Church, Oxford, mengungkapkan harapannya pada tahun 1669 bahwa sebuah penerbit di Oxford, "dengan berkat Tuhan, tidak hanya terbukti bermanfaat bagi kami para sarjana miskin, tetapi juga mencerminkan reputasi dan keuntungan bagi publik" (McKitterick, 2002). Manchester University Press didirikan pada tahun 1904, "terutama sebagai wadah untuk menerbitkan penelitian akademis yang dilakukan di Victoria University of Manchester" (Manchester University Press, 2016).

Diversifikasi University Press

Melihat fenomena tersebut dan karena tekanan keuangan yang mulai muncul terutama sejak akhir tahun 1970-an di Inggris dan AS (Givler, 2002), banyak penerbit perguruan tinggi mengambil keputusan untuk mendiversifikasi aktivitas mereka dari bisnis akademik inti penerbitan monograf ilmiah oleh anggota institusi mereka sendiri ke genre penerbitan lain termasuk berbagai buku perdagangan, Pengajaran Bahasa Inggris (ELT), penerbitan pendidikan, dan karya klasik. Sementara beberapa berhasil menerapkan strategi ini, terutama Oxford dan Cambridge University Press, dan beberapa penerbit universitas AS yang lebih besar seperti Chicago dan Princeton (dan dalam banyak tahun terbukti menjadi tantangan bahkan bagi mereka), yang lain tidak mampu beradaptasi dan terpaksa tutup. Penerbit perguruan tinggi di Inggris lainnya yang berfokus pada hasil akademis yang lebih eksklusif di Inggris seringkali gagal untuk berakar kuat seperti yang ditunjukkan oleh Hardy dan Oppenheim (2004) dengan pengambilalihan usaha baru (misalnya Leicester, Open University Press) dan penutupan (misalnya Hull, Nottingham) yang terjadi secara teratur sejak tahun 1990-an dan seterusnya. Penerbit perguruan tinggi terjebak dalam posisi yang sulit: diharapkan oleh lembaga induk mereka untuk menerbitkan karya ilmu pengetahuan yang belum tentu memiliki pasar komersial, sementara pada saat yang sama mencapai kelangsungan finansial, banyak penerbit menemukan diri mereka di antara ‘batu karang penerbitan akademis dan tempat sulit secara finansial’ (Steele, 2008; lihat juga Givler, 2002). itulah posisi yang masih dialami banyak penerbit perguruan tinggi hingga saat ini.

Perguruan Tinggi Sebagai Lembaga Pengembangan Keilmuan

Penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia tidak saja memerlukan perubahan tetapi juga memerlukan inovasi agar perguruan tinggi menjadi suatu lembaga yang mengembangkan keilmuan. Inovasi itu tumbuh ketika cara pandang terhadap perguruan tingi tidak seperti biasanya oleh kebanyakan pelaksana seperti dosen atau mahasiswa, terutama para pengelola perguruan tinggi. Peran publikasi terutama ilmiah begitu penting dalam pengambangan perguruan tinggi, yang membuktikan adanya kinerja dari perguruan tinggi atas dasar kinerja para dosen dan mahasiswa dalam pembalajaran yang ditekankan terhadap tri dharma perguruan tinggi.

Buku atau karya ilmiah sebagai luaran tri dharma yang memberi dampak bagi perguruan tinggi tersebut. Publikasi ilmiah terdiri dari tiga kategori: (a) publikasi ilmiah yang hanya memilikinomor ISBN, (b) publikasi ilmiah yang hanya memiliki nomor ISSN, (c) publkasi ilmiah yang memiliki nomor ISBN dan ISSN. Dengan demikian, publikasi ilmiah terdiri dari kemungkinan jenis dokumen: (a) artikel yang terbit dalam jurnal, (b) makalah yang terbit dalam suatu prosiding, atau (c) buku atau bab buku. Selain itu, terdapat jenis dokumen yang berbeda, misalnya seperti letter atau short paper.

Tantangan Penerbit Perguruan Tinggi

Tantangan penerbit perguruan tinggi yang harus kita hadapi antara lain meliputi rendahnya minat baca, maraknya pembajakan, dan lambatnya adaptasi terhadap format digital (e-book). Selain itu, terbatasnya penulis berkualitas, tingginya biaya produksi, dan kebutuhan untuk beralih ke model akses terbuka (open access) memaksa penerbit kampus melakukan inovasi bisnis. Kita mulai dari yang pertama Adaptasi Teknologi & Digitalisasi, Penerbit perguruan tinggi yang masih konvensional/tradisional harus bertransformasi ke platform digital (e-book/online) untuk mengikuti tren, yang seringkali menuntut modal dan keahlian baru; kedua, Pembajakan buku, baik fisik maupun digital, semakin parah dan merugikan royalti serta penjualan resmi; ketiga, Kualitas dan Kuantitas Naskah, hal ini ditandai minimnya dosen atau peneliti yang produktif menulis buku ajar/referensi berkualitas, serta kurangnya keterampilan menulis; keempat, Minat Baca Rendah, atau rendahnya budaya baca di masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa, membuat pasar buku akademik cenderung terbatas; kelima, Transisi ke Open Access: Adanya tekanan untuk beralih ke open access (akses terbuka) menciptakan tantangan ekonomi bagi penerbit yang terbiasa dengan model bisnis konvensional; keenam, Biaya cetak yang tinggi dan kendala dalam distribusi buku agar dapat menjangkau target pembaca secara luas; ketujuh. Kompetensi Editor, terbatasnya staf editorial yang memahami standar penerbitan ilmiah dan akademik. Menghadapi tantangan ini, peran APPTI dan penguatan literasi digital menjadi krusial untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan penerbitan buku 

 

Langkah-Langkah Strategis Perguruan Tinggi Kedepan

Agar penerbit perguruan tinggi (university press) dapat beroperasi lebih baik, profesional, dan mampu bersaing, diperlukan transformasi tata kelola dari sekadar unit pencetakan menjadi penerbit akademik yang serius. Berikut ini adalah langkah-langkah strategis yang harus dilakukan penerbit perguruan tinggi:

1)   Peningkatan Kualitas dan Profesionalisme SDM, antara lain Memperkuat kapasitas staf dengan melakukan pelatihan editor, layout designer, dan staf pemasaran agar mampu menghasilkan buku dengan standar kualitas tinggi; Membangun Jiwa Entrepreneurship: Pengelola penerbit harus memiliki kreativitas dan inovasi untuk produktif, berorientasi pada hasil riset, serta pemasaran yang aktif; Manajemen Profesional: Menerapkan tata kelola yang profesional, tidak hanya mengandalkan naskah dari internal kampus, tetapi juga mampu mengelola naskah dari luar;

2)   Strategi Konten dan Akademik, hal hal yang harus dilakukan antara lain : Seleksi Naskah Ketat (Peer Review), yaitu mengimplementasikan proses peer review yang kredibel untuk menjamin kualitas ilmiah buku yang diterbitkan; Fokus pada Hasil Riset: Menerbitkan buku yang berbasis pada hasil riset dan pengabdian masyarakat dosen dan peneliti, yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan; dan Penerbitan Buku Ajar/Referensi, yaitu Meningkatkan jumlah buku ajar dan referensi berkualitas untuk mendukung akreditasi perguruan tinggi;

3)   Digitalisasi dan Pemasaran Modern, hal hal yang harus dilakukan : Digitalisasi Tata Kelola, yaitu merintis sistem informasi penerbitan (seperti Online Submission System) untuk mempermudah alur kerja, dari pengiriman naskah hingga penerbitan; Penerbitan E-Book: Memperbanyak koleksi buku dalam bentuk digital (e-book) untuk memperluas jangkauan pembaca, terutama mahasiswa; Pemasaran Media Sosial: Menggunakan platform digital (media sosial, website resmi) untuk promosi buku secara lebih luas dan interaktif; dan Distribusi Luas: Membangun jaringan distribusi, baik melalui toko buku fisik maupun marketplace daring;

4)   Legalitas dan Reputasi, hal hal yang harus dilakukan : Menjadi Anggota IKAPI dan APPTI : Memastikan penerbit menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk kredibilitas, standar, dan perlindungan hukum; Tertib mengurus ISBN secara sistematis ke Perpustakaan Nasional untuk setiap buku yang diterbitkan; dan Penguatan Brand: Mengikuti ajang anugerah buku untuk meningkatkan reputasi penerbit di kancah nasional maupun internasional; dan

5)   Efisiensi dan Kolaborasi, hal hal yang harus dilakukan yaitu dengan melakukan Efisiensi Anggaran untuk memproduksi buku dengan biaya wajar namun berkualitas; dan Kolaborasi (APPTI): Bergabung dan aktif dalam Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) untuk memperkuat jaringan, berbagi ilmu, dan kolaborasi pemasaran. 

Kesimpulan

Dengan menerapkan kombinasi langkah-langkah di atas, penerbit perguruan tinggi dapat bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya sekadar menerbitkan, tetapi berkontribusi nyata pada literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Berdasarkan arah strategis yang tepat masa depan APPTI (Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia) kedepannya diproyeksikan harus berfokus pada transformasi digital dan penguatan peran penerbit perguruan tinggi. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut .

 

1.    Peningkatan Kualitas dan Produktivitas: APPTI mendorong penerbit perguruan tinggi untuk lebih produktif menghasilkan buku bermutu, baik buku teks maupun referensi hasil penelitian, guna mendukung ekosistem akademik.

2.    Transformasi Digital dan AI: Mengadopsi teknologi digital dalam proses penerbitan, termasuk pemanfaatan Big Data dan Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat produksi, pemasaran, dan distribusi buku digital (e-book).

3.    Penguatan Standar Kompetensi: Fokus pada peningkatan kompetensi SDM penerbitan di lingkungan perguruan tinggi agar sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

4.    Sinergi dan Kolaborasi: Memperkuat kolaborasi antar penerbit perguruan tinggi di Indonesia untuk mengatasi tantangan distribusi dan memperluas jangkauan pasar buku-buku ilmiah.

5.    Optimalisasi Penerbitan Ilmiah: Memposisikan penerbit PT sebagai ujung tombak diseminasi ilmu pengetahuan dari civitas akademika kepada masyarakat luas. 

 

Intinya secara garis besar, APPTI akan bertransformasi menjadi organisasi penerbitan akademik yang lebih modern, berbasis digital, dan berdaya saing tinggi.